Jumat, 15 Maret 2013

SUDAH SEHATKAH PERSAINGAN SEKOLAH KITA?


Oleh: Apriyani, S.Pd

Manusia dan pendidikan, dua hal yang tidak dapat terpisahkan, dengan pendidikan manusia dapat mencapai kemajuan keberadapan dan manusia menjadi subjek pelaku pendidikan itu sendiri. Pendidikan adalah sentral kemajuan dari segala aspek kehidupan manusia. Hal inilah yang mendorong berbagai pihak kepentingan meramaikan pasar jasa pendidikan atau isekolahi. Mulai dari tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai perguruan tinggi, setiap sekolah berduyun – duyun menarik perhatian konsumen yaitu masyarakat sebagai peserta didik.
Bak pasar yang memasarkan dagangannya, sekolah-sekolah yang kian lama kian bertambah juga berusaha mencari konsumen. Setiap sekolah  berusaha menawarkan pelayanan terbaiknya. Agar sekolah tetap hidup dan diminati oleh orangtua atau peserta didik. Kondisi sedemikian mengakibatkan persaingan antar sekolah. Persaiangan sekolah yang dimaksud mulai dari penyebaran panflet dan leflet diberbagai tempat guna mempromosikan keungggulan sekolah. Hal buruk yang mungkin saja terjadi dengan mencitrakan sekolah sebagai ajang mencari kekuasaan politik, kepentingan kelompok atau individu. terlebih jika sudah terjadi konflik antar sekolah. Contohnya sekolah A yang berdiri terlebih dahulu merasa tersaingi dan terancam keberadaannya jikalau hadir sekolah B berjenjang sama yang letaknya hampir berdekatan. Dengan berbagai hal sekolah A mencari cara bagaimana sekolah B tidak jadi berdiri atau menjatuhkan pamor bahkan mungkin dengan cara keji memfitnah. Kondisi ini tentunya tidak diharapkan terjadi.
Kini banyak sekolah yang kekurangan peserta didik kemudian di-regroup dengan sekolah terdekat. Salah satu penyebabnya adalah munculnya sekolah swasta yang mampu manjawab harapan orangtua peserta didik. Harapan orang tua untuk memberikan sekolah yang terbaik bagi anaknya inilah yang mendorong persaingan antar sekolah. Suatu contoh, meskipun jarak yang ditempuh untuk ke sekolah cukup jauh bahkan dengan biaya pendidikan yang  tinggi tidak menyurutkan minat orangtua untuk menyekolahkan anaknya disekolah yang dianggap baik, daripada menyekolahkannya di sekolah terdekat yang jauh lebih murah bahkan gratis. Hal ini membuktikan bahwa persaingan dunia pendidikan sangat ketat, tidak hanya berkaitan dengan persaingan kualitas tetapi juga persaingan mendapatkan siswa.
Keresahan ini tentu menggelayuti sekolah-sekolah yang belum siap bersaing secara sehat. Munculnya sekolah baru berjenjang sama yang letaknya berdekatan memungkinkan timbul rasa terancam kalah bersaing bagi sekolah yang sudah lebih dahulu berdiri. Persaingan memperebutkan banyaknya siswa dan kualitas input siswa yang memadai menjadikan permasalahan tersendiri bagi setiap sekolah. Jika hal ini tidak ditanggapi secara positif akibatnya akan terjadi perselisihan faham yang seharusnya tidak perlu terjadi.
Kesiapan sekolah menghadapi persaingan harus diniati dengan mempersiapkan kualitas guru, sarana dan prasarana yang menunjang serta menyiapkan bekal spiritual yang mumpuni. Idealnya sekolah menyadari tujuan didirikannya sekolah yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan membantu program pemerintah guna memberikan hak pendidikan kepada anak bangsa. Dengan demikian, dimanapun peserta didik bersekolah tentunya menjadi hak peserta didik dan menjadi hak sekolah lain membantu program pemerintah pula. Selain itu dengan bersaing sehat menuntut setiap sekolah memperbaiki diri dari semua aspek sehingga mampu menarik minat orangtua dan atau peserta didik. Bersaing sehat menggunakan cara yang tidak melanggar norma, baik norma hukum maupun sosial.
Menanggapi persaingan sekolah agar tidak menjadi boomerang bagi penyelenggara pendidikan, maka sekolah perlu memperhatikan beberapa aspek. Pertama, sekolah harus memahami apa yang diinginkan konsumen yaitu orangtua dan peserta didik. Dalam hal ini meningkatkan kualitas sekolah baik pembelajaran, metode, media, sarana prasarana, layanan yang humanis dan mendidik bukan mengajar peserta didik semata menjadi faktor pokok. Harapannya akan terwujud lulusan yang benar-benar berkarakter unggul.
Kedua, sekolah baik kepala sekolah, guru maupun dewan sekolah harus menyadari bahwa pekerjaan menjadi pendidik adalah pekerjaan mulia. Dengan sepenuh hati tulus ikhlas mengantarkan anak didik mendapatkan haknya memperoleh pendidikan. dunia pendidikan sebisanya tidak dicampur adukkan dengan politik maupun kepentingan baik individu maupun kelompok. Niat sosial membantu, mengabdikan kemampuan terhadap sosial pendidikan sebaiknya dikedepankan dan tidak berburuk sangka terhadap sekolah lain yang dapat menarik siswa lebih banyak.
Jika kedua hal tersebut dapat diterapkan dalam dunia pendidikan kita, sungguh akan menjadikan persaingan sehat yang tentunya membangun dan menginspirasi bagi lingkungan sekitar dan tentunya peserta didik sebagai penerus bangsa. Semoga!

Apriyani, S.Pd
Pemerhati Pendidikan, dan praktisi gerakan pendidikan untuk semua Teratai Education


Tidak ada komentar:

Posting Komentar